Selasa, 28 Februari 2012

Hooahh..... akhirnyaa...
setelah sekian lama gak buka blog ini, lupa pasword jadi kendala pertama.....
kendala selanjutnya?? ya, gak punya ide mau nulis apa... klasik banget alasannya...

Hmm, sekarang udah  jam 01.41
padahal besok harus bangun pagi.. tadi sih nawaitunya mau bikin BAB I metlit (metode penelitian), sebuah mata kuliah wajib yang ngerepotin  buat anak tingkat akhir.. tapi ternyata social media (diselingi xhamster) lebih menarik perhatian gue malam ini.. dan kemudian, niat hanya akan menjadi niat.. tapi setidaknya udah dicatet sebagai amal deh... hahaha....

Hmm, bingung.....mau nulis apalagi...
yoweis lah...
gudnait aja dehh..........

Senin, 13 Juni 2011

Resensi Buku

Hobi baca buku? Hm.. bagus banget tuh. 
Banyak yang bilang kalo buku tuh jendela dunia, karena dengan banyak banyak baca jadi banyak tahu. Buat melampiaskan hobi baca ini, biasanya para reader perlu banyak informasi tentang bukunya. Makanya nih sedikit informasi tentang beberapa buku bagus yang recommended buat di baca.
Sok atuh disimak....



1. Hanya Salju dan Pisau Batu



Penulis     : Happy Salma dan Pidi Baiq
Penerbit   : Qanita

Buku ini ditulis oleh Pidi baiq sang vokalis dari band The Panas Dalam telah merilis buku barunya yang kali ini diberi judul “Hanya Salju dan Pisau Batu”. Pidi Baiq yang sebelumnya sudah dikenal lewat buku-buku sebelumnya seperti Drunken Monster dan Drunken Molen, kali ini menggandeng Happy Salma yang kita  kenal sebagai pemain film dan sinetron. Namun kali ini Happy Salma berkolaborasi dengan Pidi dalam mengerjakan buku Hanya Salju dan Pisau Batu ini.
Apa yang menarik dari buku ini? Jangan khawatir friends, karena sebelum kamu membaca isinya, tampilan luar dari buku ini pun sudah cukup menarik perhatian (apalagi dalamnya). Pemberian warna emas pada bagian sampul menjadikan “bling..bling” sebagai kata pertama yang ada di pikiran saya ketika melihat buku ini.
Untuk buku ini jangan harap melihat kejailan-kejailan Pidi baiq seperti yang terangkum dalam drunken-drunken yang telah dibuatnya. Namun dalam buku ini kita masih bisa tersenyum simpul membaca kedua orang insan manusia (Happy dan Pidi, red) saling sahut-sahutan membentuk sebuah rangkaian cerita yang menurut saya luar biasa dan beda dari buku-buku lainnya.
Dalam buku ini Happy tidak menjadi Happy dan begitupun Pidi, mereka lebih banyak menjadi orang lain yang memainkan logika masing-masing dalam mengangkat fenomena yang terjadi. Happy dengan logika dan tulisan yang berat sedangkan Pidi dengan tulisan-tulisannya yang simple namun cerdas. Hal ironis yang patut untuk dicoba.



2. Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas.


Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka

Tampaknya Andrea Hirata semakin memukau pembaca lewat novel terbarunya yang bertajuk dwilogi padang bulan. Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita dari masyarakat melayu di Belitung. Pertama kali bingung ketika membaca novel ini karena bercerita mengenai sosok Enong sekaligus kisah cinta Ikal dan A Ling yang menjadi penghibur dalam novel ini.

Penulis sanggup membawa pembaca dalam keharuan ketika menyimak sosok Enong dengan segala kisahnya. Dia yang sedari dulu miskin semakin merana ketika ayahnya meninggal dan menjadikannya kepala keluarga untuk tetap menyambung hidup keluarganya. Nasib semakin tidak berpihak ketika banyak cacian bertubi-tubi datang karena dia menjadi wanita pendulang timah pertama kali di masyarakat melayu. Tetapi caci dan maki tentang pekerjaan mendulang timah yang dianggap tidak terhormat dan tak pantas dilakukan oleh wanita itu menjadikannya wanita kuat yang tetap bertahan dalam himpitan hidup. Di sisi lain, Enong sangat menyukai Bahasa Inggris. Dengan perjuangannya akhirnya dia berhasil mengikuti Les bahasa Inggris untuk mengembangkan bakatnya. Dan akhirnya dibuktikan tekadnya dengan mendapat Juara III dalam les Bahasa Inggris tersebut. Setelah berlalu hal-hal itu yang menjadi puncak kesengsaraan Enong ketika dirinya diperlakukan buruk oleh suaminya dan akhirnya bercerai serta ditinggal Ibunya yang sangat dicintainya untuk selama-lamanya.

Sosok lain yang ditampilkan dalam novel ini adalah Ikal yang dahulu sudah tampil dalam tetralogi Laskar Pelangi. Dengan kisah cinta yang berlarut-larut dengan seorang gadis Cina bernama A Ling, dan upayanya yang tidak masuk akal dalam merebut A Ling dari seorang Pemuda Cina. Beruntung pada akhirnya dia tahu bahwa cerita A Ling yang dikabarkan akan menikah dengan pemuda Keturunan Cina itu adalah hanya sebuah kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan gaya bercerita yang mendetail seakan kita dapat melihat gambar ketika membaca novel ini. Ceritera yang begitu mengaduk perasaan sekaligus menggelikan ini membuat pembaca tak bosan untuk membaca sampai akhir cerita. Semakin menginspirasi ketika memasuki novel yang kedua yaitu Cinta di dalam gelas, dengan alur maju yang divariasi dengan alur balik. Perjumpaan Ikal dan Enong dan rencana Ikal membantu Enong dalam lomba catur di acara 17 Agustus untuk mengalahkan mantan suaminya membuat alur semakin menantang untuk ditelusuri.

Hal-hal yang menggelikan seperti kehadiran seorang Detektif dengan burung merpati yang akhirnya diketahui menjadi tukang pos serta Paman Ikal menambah ketertarikan novel ini. Serta rahasia dalam warung-warung kopi yang sering dikunjungi oleh masyarakat Melayu, yang dapat digunakan untuk menganalisis sifat dan karakter para pengunjungnya.

Itulah sedikit cerita dari novel ini, yang tidak bisa dirangkum keseluruhannya. Membacanya membuat kita mengenal sisi hidup lain yang belum pernah diangkat serta berbagai pelajaran hidup yang berharga untuk disimpan. Meski akhir-akhir cerita terdapat gambaran permainan catur yang tidak begitu mudah dimengerti tetapi secara keseluruhan Novel ini begitu menginspiratif. Bekerja keras layak dilakukan oleh siapapun dalam mengejar mimpinya, serta percaya akan tangan Tuhan yang akan selalu member keadilan pada manusia.



3. 9 Matahari

Penulis   : Adenita
Penerbit : Grasindo

Mahalnya biaya kuliah tidak jadi hambatan seseorang untuk meraih impiannya. Itulah tema dari novel 9 Matahari karya Adenita. Novel ini berkisah tentang Matari Anas, perempuan dari keluarga kurang mampu yang bercita-cita kuliah. Walau mendapat penolakan dari ayahnya, Tari (panggilan Matari) nekat hijrah ke Bandung untuk kuliah.

Ketika biaya tak jadi masalah bagi orang lain, justru uang jadi masalah utama bagi cita-cita Tari. Tidak hanya itu, masalah lain berkali-kali datang ketika ia sudah kuliah. Dari tuntutan pergalan, culture shock, hingga lika-liku percintaan.

Seperti novel-novel Fira Basuki, Adenita yang juga berbintang gemini pandai bertutur cerita, sehingga enak mengikuti alur novel ini. Di bagian awal novel, pembaca diajak melihat masalah dan ketakutan yang dirasa Tari. Kemudian di pertengahan novel, nuansa psikologis Tari makin terasa, ketika keyakinannya untuk meraih cita-cita mulai goyah karena sikap pesimis sang ayah dan biaya hidup yang besar.

Adenita pandai menceritakan secara detail lingkungan Tari, seperti situati kerjanya di stasiun radio. Kejelian Adenita dalam mengamati gaya hidup tertuang dalam sikap Tari saat bergaul.

Tiada gading yang tak retak. Begitu juga novel perdana Adenita ini. Sepanjang cerita kerap kali ditemukan kesalahan ketikan. Selain itu, banyak juga ditemukan kata mubazir, imbuhan yang tidak perlu, dan kalimat rakasasa. Lihat saja pada judul babnya, seperti “Hidup Selalu Dihadapkan Pada Pilihan. Dan, Pilihan yang Diambil Adalah Sebuah Keyakinan yang di Dalamnya Ada Kekuatan” dan “You Can Change All Things for The Better When You Change Your Self for The Better”. Semua itu membuat capek untuk dibaca. Pengibaratan atau majas yang digunakan juga terasa hambar.

Novel ini menawarkan kisah hidup yang dekat dengan kehidupan mahasiswa Indonesia. Tak heran jika pembaca mahasiswa akan merasa intim dengan problematika Tari. Novel ini juga layak dibaca orang tua dan pengajar untuk mengintip kehidupan anak-anak mereka di bangku kuliah. Bagi khalayak umum, lewat novel ini akan mengetahui bahwa pendidikan adalah investasi mahal untuk memetik buah keberhasilan, kelak.  



4. Matahari Merah Bulan Mei
 


Penulis : Ali Akbar
Penerbit : Maju Mbojo


Sepuluh tahun sudah Reformasi 1998 berlalu. Hiruk-pikuknya masih menyisakan berbagai kenangan sampai kini. Sudah empat presiden memimpin negeri ini. Namun, persoalan negeri ini tak kunjung selesai.

Salah satu fase terpenting dalam kehidupan bangsa ini pun telah tercatat dalam berbagai buku. Baik dalam bentuk biografi, otobiografi maupun fiksi. Salah satunya novel Matahari Merah Bulan Mei ini.

Novel ini ditulis oleh salah satu dari aktivis yang terlibat langsung dalam Reformasi 1998 yang karena begitu membingungkan rakyat sering dipelesetkan menjadi ’Repotnasi’. Repot memikirkan nasi (perut) lantaran harga beras terus membumbung tinggi.

Mengambil sudut pandang seorang tokoh aktivis mahasiswa, penulis menceritakan berbagai tokoh (terutama mahasiswa) menjelang Reformasi Mei 1998.  Tokoh-tokoh mulai dari narapidana (tentara desertir), pembantu rumah tangga, kuli angkut, petani yang menjadi kuli bangunan,  penjaga warung yang bercita-cita menjadi TKW sampai tokoh lurah yang menggambarkan krisis moral di negeri ini juga menghiasi novel ini. Beberapa tokoh nasional muncul sebagai cameo dalam novel ini. Misalnya Amien Rais, Ali Sadikin, Buyung Nasution.

Hampir semua tokoh bermuara pada satu tujuan. Jalinan benang merahnya dengan cerdas dan mulus dijalin oleh penulis. Kecuali tokoh narapidana (tentara desertir) yang hingga akhir hidupnya ’hubungan’ cerita yang lain sebatas mencuri dengar obrolan mahasiswa di warung tepi jalan.

Ali Akbar, si penulis, tampaknya lebih memilih untuk menceritakan peristiwa reformasi dari kacamatanya sendiri, dari sudut pandang pelaku sejarah. Jejak sejarah yang ditampilkan dalam novel ini misalnya penembakan mahasiswa Trisakti, pendudukan Gedung MPR/DPR hingga detik-detik Soeharto mengundurkan diri. Seperti dikatakan oleh Syamsudin Haris, pengamat politik dari LIPI, novel ini layak dibaca karena ditulis oleh aktivis mahasiswa yang terlibat langsung di dalam gerakan Reformasi 1998. Bahkan, Anis Matta, politisi dan anggota DPR RI, menyatakan ini adalah sebuah novel sejarah yang menggambarkan jejak jiwa seorang aktivis.

Meski porsi ceritanya tidak besar, Ali Akbar menyebutkan keterlibatan Amerika di dalam gerakan Reformasi. Ia menyebutkan ada tokoh mahasiswa yang didatangi oleh orang dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Orang itu menawarkan bantuan jika diperlukan. Ia memberikan selembar kartu nama yang kemudian dibuang oleh tokoh mahasiswa tersebut.

Sulit menghilangkan kecurigaan keterlibatan Amerika di dalam menentukan percaturan politik di Indonesia. Salah satu bagian dari peristiwa tahun 1966 yang terus dikaji oleh politikus dan sejarawan adalah mengenai keterlibatan badan intelijen Amerika—CIA. Ada pandangan kuat bahwa Amerika tidak sejalan dengan Soekarno dan berupaya menyingkirkannya. Apalagi ketika itu Soekarno condong ke blok Timur. Ada ’tuduhan’ bahwa Soeharto didukung oleh Amerika. Bahkan, ada dugaan kalau aksi demonstrasi mahasiswa angkatan 66 dibiayai oleh CIA.

Demonstrasi 1998 dianggap sama besar besar bahkan lebih besar dari demonstrasi 1966. Kedua demonstrasi itu diakui menjadi tahap penting di dalam sejarah Indonesia. Namun, pernahkan ada yang menyatakan keterlibatan Amerika di dalam demonstrasi 1998?

Satu hal yang cukup menggelitik adalah penggunaan teknologi telepon genggam alias handphone. Pada masa itu handphone masih merupakan benda mewah tanda status seseorang. Tidak banyak orang yang memilikinya apalagi mahasiswa. Apakah ini indikasi keterlibatan Amerika atau memang aktivis tersebut dari keluarga kaya atau karena ia seorang aktivis ’karismatik’ yang mendapat ’bantuan’ dari banyak pihak yang bersimpati. Terlepas dari itu semua ternyata teknologi juga berperan dalam melengserkan suatu rezim seperti yang juga terjadi di Filipina.

Membaca novel ini kita seolah terlibat di dalamnya. Mengikuti rapat mengatur strategi berdemo, tidur di tenda ditemani nyamuk, ramai-ramai berdemonstrasi, bersitegang dengan aparat keamanan hingga memuncaknya Reformasi 1998. Inilah, meminjam ungkapan Maman Mahayana dalam kata penutupnya, catatan terpendam yang mengungkap kisah tak terucapkan. Beruntung, Ali Akbar merekam semua itu.


5. Kick Andy Heroes




Penulis  : Tim Kick Andy
Penerbit : Bentang Pustaka

Mencari sosok pahlawan yang dapat menginspirasi bukanlah perkara mudah. Apalagi ditengah suasana ekonomi dan politik dengan beragam konfliknya saat ini. Kita seperti kekeringan teladan. Tetapi melalui program Kick Andy Hero, hadir para pahlawan baru. Mereka hanya orang-orang biasa, tetapi yang dilakukannya adalah tindakan luar biasa, dengan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki, mereka masih mau berbagai. Kick Andy memberikan penghargaan bagi mereka yang dinilai berjasa untuk lingkungan sekitarnya. Sementara buku ini berusaha menyajikan kembali ceritanya, memotret semangat para Heroes dan membaginya untuk menumbuhkan titik air, menyirami benih semangat berbagi untuk hidup yang lebih baik.

__________________________________________________________________________
Well,reader..
5 buku tadi merupakan beberapa buku yang menurut saya bagus dan banyak nilai yang bisa kita ambil setelah membaca bukunya. Sekarang, siapin uang terus buru-buru deh ke toko buku langganan kalian.
Selamat Membaca..........